Total Tayangan Halaman

Senin, 16 Mei 2016

Dampak Negatif Televisi Bagi Anak-Anak


        Televisi merupakan salah satu alat elektronik yang berfungsi memberikan informasi, pendidikan dan hiburan. Tapi saat ini televisi bukan hanya memberikan dampak positif saja, tetapi juga memberikan banyak dampak negatif khususnya bagi anak-anak. Kebanyakan anak-anak zaman sekarang menghabiskan waktu  didepan televisi. Sayangnya, siaran-siaran televisi yang ada saat ini kurang mendidik bagi mereka. Seperti banyaknya unsur-unsur kekerasan, tindakan asusila, pornografi, sampai pembunuhan yang di tampilkan dalam sinetron-sinetron ataupun film. 

Hal ini tentunya dikhawatirkan dapat membuat anak-anak merasa hal-hal buruk tersebut merupakan hal yang lazim dilakukan. Sehingga ditakutkan mereka akan menirunya. Jika masalah ini tidak segera diatasi, anak-anak bangsa akan mengalami kemerosotan moral. Disini dibutuhkan peran orangtua untuk mengawasi anak-anaknya saat menonton televisi. Orang tua harus selektif dalam memilih siaran yang berguna bagi anak-anaknya dan tegas dalam menentukan waktu untuk menonton dan waktu untuk belajar, karena kebanyakan waktu belajar anak digunakan untuk menonton. Dengan begitu, kerusakan moral generasi bangsa dapat dicegah dan diatasi.

Untuk Indonesia Yang lebih Baik...

Peningkatan Prestasi Belajar Siswa

Siswa-siswi saat ini membutuhkan perhatian dalam peningkatan prestasi belajar. Hal ini disebabkan prestasi yang tak pernah meningkat dan tak jarang prestasi yang mereka miliki menurun. Sehingga perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar para siswa. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhinya adalah faktor eksternal dan faktor internal.

            Faktor internal yaitu yang berasal dari dalam diri siswa. Faktor ini lebih kekesadaran siswa-siswi itu sendiri dalam peningkatan prestasi belajar mereka. Adapun beberapa faktor yaitu kesehatan jasmani dan rohani,motivasi diri, asupan gizi dan strategi. Kesehatan jasmani dan rohani merupakan faktor utama yang dibutuhkan. Karena Proses belajar akan terganggu bila kesehatan terganggu. Kemudian, faktor motivasi diri juga sangat penting karena jika tak ada motivasi dalam diri maka bagaimana pun prestasi siswa tak akan ada peningkatan. Sehingga untuk meningkatkan prestasi siswa perlu pengarahan terlebih dahulu untuk memberikan kesadaran dan semangat bagi siswa. Selain itu, asupan gizi merupakan hal yang sering dihiraukan. Untuk meningkatan prestasi siswa dibutuhkan asupan gizi yang pas. Hal ini harus sejalan sehingga lebih mudah dalam proses peningkatannya. Dan strategi juga penting karena jika strategi tidak di atur maka faktor yang lain tidak akan mempengaruhi dengan baik.
           
            Faktor eksternal yaitu yang berasal dari luar diri. Adapun beberapa faktor yaitu lingkungan, sarana prasarana dan kelompok belajar (sosial). Tentunya lingkungan sangat mempengaruhi bagaimana siswa dalam meningkatkan prestasi belajarnya. Kemudian sarana prasarana juga akan mendukung prestasi siswa. Keterbatasan sarana prasarana yaang kurang membuat prestasi belajar siswa juga kurang. Selain itu, kelompok belajar juge mempengaruhi. Dengan belajar kelompok siswa akan lebih mudah dalam memamhami pelajaran dan dengan begitu secara tidak langsung dapat meningkatkan prestasi belajar siswa.


Sabtu, 14 Mei 2016

MAKALAH : FAT SPLITTING

 BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
            Permintaan akan produk oleokimia yang sangat tinggi. Hal ini dapat dimaklumi karena produk oleokimia mempunyai beberapa keunggulan dibandingkan produk petrokimia, seperti harga, sumber yang dapat diperbaharui dan produk yang ramah lingkungan. Pada saat ini industri oleokimia masih berbasis kepada minyak / trigliserida sebagai bahan bakunya. Hal ini terjadi karena secara umum, para pengusaha masih ragu untuk terjun secara langsung ke industri oleokimia. Masih sangat jarang dijumpai sebuah industri yang mengolah bahan baku langsung menjadi bahan kimia tanpa melalui trigliserida. Padahal secara ekonomi dan teknik, banyak produk dari bahan alami yang bisa diolah langsung dari bahan nabati tanpa melalui trigliserida.
            Produksi oleokimia dasar yang telah dilakukan dalam industri adalah melalui proses termik (menggunakan suhu 250 o C dan tekanan sekitar 50 atm), yaitu, melalui proses pemecahan lemak (fat splitting), esterifikasi, transesterifikasi dan hidrogenasi. Proses tersebut memerlukan energi tinggi serta investasi peralatan yang mahal dan mutu produk yang dihasilkan tidak terlalu baik ditinjau dari warna dan baunya sebagai akibat proses panas tersebut.
            Dalam makalah ini dibahas empat metode / proses pemecahan lemak yaitu proses Twitchell, proses autoclave batch, proses kontinu, dan proses secara ezimatis. Selain keempat metode pemecahan lemak diatas,karena keempat metode digunakan pada skala lab,maka untuk skala besar digunakan metode colgate emery, yaitu dengan memanfaatkan uap dari suhu tunggu tinggi yaitu 523 K dengan tekanan tinggi 5 x 106 dengan kapasitas produksi 5000 pound/jam,prinsip kerja nya pada proses metode ini hampir sama dengan proses reaksi dasarnya.

1.2. Tujuan
            Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui beberapa metode dalam pemecahan lemak. Selain itu, makalah ini disusun untuk melengkapi tugas mata kuliah Proses Industri Petro dan Oleokimia.
1.3. Batasan Masalah
            Dalam penulisan makalah ini penulis membatasi masalah pada proses pemecahan lemak yaitu proses Twitchell, proses autoclave batch, proses kontinu, dan proses secara ezimatis, serta perbandingan antara keempat proses tersebut.


BAB II
ISI

2.1    Oleokimia
          Oleokimia pada dasarnya merupakan cabang ilmu kimia yang mempelajari trigliserida yang berasal dari minyak dan lemak menjadi asam lemak dan gliserin serta turunan asam lemak baik dalam bentuk ester, amida, sulfat, sulfonat, alkohol, alkoksi, maupun sabun. Oleokimia merupakan turunan gliserol dengan asam lemak yang berubah dalam bentuk turunannya yang digunakan baik sebagai surfaktan, deterjen, polimer, aditif, bahan bakar dan sebagainya. Bahan dasar oleokimia seperti gliserol, asam lemak, alkil asam lemak, amina asam lemak dan alkohol asam lemak dapat diperoleh dengan mengubah lipida baik yang berasal dari hewan maupun tumbuhan menjadi gliserol dan turunan asam lemak.
          Sumber minyak dan lemak alami dapat berasal dari bahan nabati maupun hewani. Sumber minyak nabati di antaranya adalah minyak kelapa sawit, minyak kacang kedelai, minyak biji bunga matahari, minyak biji wijen, minyak jarak dan sebagainya. Sedangkan minyak dan lemak yang berasal dari hewan yaitu seperti minyak sapi, minyak domba, minyak babi, minyak ikan dan lain-lain. Minyak dan lemak tersebut sangat luas penggunaannya, baik sebagai bahan baku lemak dan minyak yang dapat dikonsumsi maupun sebagai bahan oleokimia.
            Produk-produk oleokimia berasal dari penggunaan asam lemak dan gliserol. Penggunaan terbesar dari asam lemak adalah dengan mengubahnya menjadi alkohol, asam lemak, amida, garam asam lemak dan juga plastik, termasuk nilon (hampir mencapai 40% dari total penggunaannya). Penggunaan terbesar berikutnya sebesar 30% untuk dijadikan sabun, deterjen, dan kosmetik. Asam lemak juga digunakan sebagai bahan dasar pembuatan resin dan cat sekitar 15%, sisanya digunakan sebagai pembantu dalam industri pembuatan ban, tekstil, kulit kertas, pelumas, lilin. Penggunaan terbesar dari gliserol adalah industri farmasi dan kosmetika serta makanan.

Gambar 2.1 Bagan Alir Produksi Oleokimia Secara Umum
Suatu lipid didefinisikan sebagai senyawa organik yang terdapat dalam alam serta tidak larut dalam air, tetapi larut dalam pelarut organik non-polar seperti suatu hidrokarbon atau dietil eter. Salah satu anggota dari golongan lipid ini adalah lemak yang tergolong dalam lipid netral.
Lemak merupakan sumber energi dalam aktivitas tubuh manusia, yang bila dioksidasi secara sempurna dalam tubuh menghasilkan 9,3 kalori lemak per 1 gram. Lemak sebagai bahan pangan dibagi menjadi 2 golongan, yaitu : 1) lemak yang siap dikonsumsi tanpa harus dimasak (edible fat consumed uncooked) misalnya mentega, margarin dan lemakyang biasa digunakan dalam kembang gula, dan 2) lemak yang dimasak bersama bahan pangan atau dijadikan sebagai bahan pengantar panas dalam memasak bahan pangan, misalnya minyak goreng, shortening dan lemak babi.
Disamping kegunaannya sebagai bahan pangan, lemak juga berfungsi sebagai bahan pembuatan sabun, bahan pelumas (misalnya minyak jarak), sebagai obat-obatan(misalnya minyak ikan), sebagai pengkilat cat(terutama yang berasal dari golongan minyak mengering). Produk dunia dari lemak diperkirakan akan meningkat setiap tahunnya, kenaikan produksi ini terutama disebabkan karena melimpahnya panen biji-bijian sebagai sumber lemak.


Sumber Lemak
            Lemak dihasilkan oleh alam yang dapat bersumber dari bahan hewani atau nabati. Karena dalam hewan atau tumbuhan itu lemak tersebut berfungsi sebagai cadangan energi. Lemak bisa diklasifikasikan berdasarkan sumbernya, sebagai berikut :
  1. Bersumber dari tanaman.
    1. Biji-bijian palawija : jagung, biji kapas, kacang, wijen, kedele, bunga matahari.
    2. Kulit buah tanaman tahunan : zaitun dan kelapa sawit.
    3. Biji-bijian dari tanaman tahunan : kelapa, coklat, inti sawit, babassu, cohune dan sejenisnya.
  2. Bersumber dari hewan :
    1. Susu hewan peliharaan : lemak susu.
    2. Daging hewan peliharaan : lemak sapi dan turunannya oleostearin, oleo oil dari oleo stock, lemak babi dan muttor tallow.

Adapun perbedaan umum antara lemak nabati dan hewani adalah :
1) lemak hewani mengandung kolesterol,
2) kadar asam lemak tidak jenuh pada lemak hewani lebih kecil dari lemak nabati,
3) lemak hewani mempunyai bilangan Reichert-Meissl lebih besar dari bilangan Polenske lebih kecil dibandingkan dengan minyak nabati.
Lemak nabati dan hewani dapat diklasifikasikan bedasarkan sifat fisiknya berikut dengan contohnya :
  1. Lemak nabati, seperti : lemak biji coklat, inti sawit, cohune, babassu, tengkawang, nutmeg butter, shea butter.
  2. Lemak hewani :
    1. Lemak susu (butter fat), seperti : lemak dari susu sapi, kerbau, kambing, dan domba.
    2. Hewan peliharaan, seperti : lemak babi, skin grease, mutton tallow, lemak tulang, lemak/gemul wool.

Lemak dalam tanama dibentuk dalam sel hidup yang merupakan hasil dari serangkaian reaksi yang kompleks alam proses metabolisme. Molekul lemak disintesa dengan proses kondensasi dari suatu molekul gliserol dengan tiga molekul asam lemak. Molekul asam lemak dan gliserol tersebut dibentuk dari hasil oksidasi karbohidrat secara proses metabolisme berlangsung.

            Proses pembentukan lemak dalam tanaman terdiri dari tiga tahap, yaitu :
  1. Sintesa gliserol.
Gilserol disintesa dari dihidroksi aseton fosfat, yang merupakan salah satu hasil penguraian fruktosa difosfat oleh enzim oleh aldose dalam tanaman. Dihidroksi aseton fosfat direduksi menjadi gliserol fosfat dan akhirnya diubah menjadi gliserol dengan proses de-phaphorilase.
  1. Sintesa asam lemak.
Asam lemak dihasilakan dari reaksi dua persenyawaan yang m,engandung karbon, yang etrbentuk selama proses metabolisme misalnya asam asetat, asetaldehida, dan alkohol (etanol). Dalam kondisi anaerob, asam lemak dalam tanaman disintesa oleh bakteri tertentu. Sebagai contoh adalah sintesa asam butirat dan asam kaproat oleh bakteri Clostridium Kluyveri, dengan reaksi sebagai berikut :
2 CH3OH  +  CH3COOH       ==>    CH3(CH2)2COOH  +  H2O
                                                                              Asam butirat
C2H5OH  +  CH3COOH     ==>     CH3(CH2)4COOH  +  2H2O
                                                                              Asam kaproat
  1. Kondensasi gliserol dan asam lemak sehingga membentuk lemak.
Proses pembentukan lemak atau minyak dalam tanaman merupakan proses esterifikasi gliserol dengan asam lemak. Sebagai contoh adalah proses pembentukan palmitin.
Enzim lipase biasanya terdapat dalam biji-bijian yang dapat mengandung lemak misalnya kacang kedele, biji jarak, biji bunga matahari, biji jagung dan juga terdapat dalam daging hewan serta beberapa jenis bakteri.
Lemak hewani bersumber dari tubuh hewan, yang terdapat dalam jaringan adipose. Jenis-jenis lemak hewani yang telah banyak dikenal adalah lemak susu, kuning telur, lemak sapi, lemak babi,lemak sumsum, lemak ayam, lemak ikan paus, ikan hiu, dan sebagainya.

2.2.      Proses Pemecahan Lemak (Fat Splitting)
Minyak atau lemak dapat dihidrolisis atau dipecah menjadi zat asam yang mengandung lemak dan gliserin, reaksinya sebagai berikut :


Gambar 2.2 Reaksi Hidrolisa Minyak
Pada suhu kamar minyak berwujud fase cair sedangkan lemak dalam fase padat. Karakteristik trigliserida ditentukan oleh komponen asam lemak pembentuknya. Karena sebagian besar dari komponen trigliserida adalah asam lemak. Trigliserida yang direaksikan dengan air pada temperatur dan tekanan tertentu akan menghasilkan lemak dan gliserol. Sepanjang langkah awal, reaksi berproses pelan-pelan, karena dibatasi oleh daya larut air dalam fase minyak. Pada langkah yang kedua , reaksi berproses dengan cepat yang disempurnakan dengan semakin besarnya daya larut air dalam zat asam yang mengandung lemak itu. Langkah yang akhir ditandai oleh suatu reaksi penyusutan zat asam yang mengandung lemak.
Peningkatan tekanan dan temperatur dapat mempercepat reaksi itu oleh karena daya larut air juga meningkat dalam fase minyak dan tenaga pengaktifan lebih tinggi. Temperatur, merupakan suatu efek penting. Dalam suatu peningkatan temperatur dari 150 ke 220 oC dapat meningkatkan daya larut air dua sampai tiga kali. Kehadiran sejumlah kecil asam mineral, seperti asam belerang atau oksida metal tertentu, seperti seng atau oksida magnesium, dapat mempercepat reaksi. Oksida metal ini adalah katalisator yang baik, yang dapat membantu pembentukan emulsi.
Proses pemisahan lemak ( fat splitting ) ada 4 (empat) macam :
( 1 ) Proses Twitchell
Proses twitchell adalah proses yang mula-mula dikembangkan pada pemisahan lemak. Proses ini masih menggunakan cara yang sederhana, disebabkan murah serta kemudahan dari instalasi dan operasi. Tetapi proses ini membutuhkan energi yang besar  dan kualitas produk yang rendah. Proses pemisahan menggunakan reagen Twitchell dan H2SO4 sebagai katalis dalam hidrolisis. Reagennya adalah campuran dari oleic atau asam lainnya dengan naptalen tersulfonasi.
Operasi terjadi dalam suatu wooden lead-lined, atau tong tahan asam. Kandungan yang terdiri dari air yang jumlahnya ± ½ dari lemak, H2SO4 1-2 % dan reagen Twitchell 0,75-1,25 % dipanaskan sampai mendidih pada tekanan atmosfer selama 36-48 jam, menggunakan steam terbuka. Proses biasanya diulangi dua sampai empat kali, fasa tiap tahap menghasilkan larutan gliserin dan air. Pada tahap akhir, air ditambahkan dan campuran dipanaskan kembali hingga mendidih guna mencuci asam yang tertinggal. Pada periode reaksi yang panjang, steam yang dibutuhkan menjadi tinggi dan diskolorisasi asam lemak tidak merata sehingga pemakaian proses ini tidak menguntungkan.


Gambar 2.3 Proses Twitchell

( 2 ) Proses Autoclave Batch
Proses ini adalah metode komersial yang membutuhkan waktu yang cukup lama dalam pemisahan. Asam yang disediakan harus dalam jumlah yang cukup banyak untuk menghasilkan zat ligh-clored. Proses ini lebih cepat dibandingkan dengan proses Twitchell, butuh waktu selama 6-10 jam sampai selesai. Pemisahan menggunakan katalis zinc, Mg atau kalsium oksida. Dari semua katalis yang paling aktif adalah zinc. Sekitar 2-4 % katalis digunakan dan sejumlah dari serbuk zinc ditambahkan untuk meningkatkan warna dari asam lemak.
Autoclave merupakan silnder yang tinggi, dengam diameter 1220-1829 mm dan tinggi 6-12 m dibuat dari alloy yang tahan terhadap korosi (corrosion-resistant alloy) dan terlindungi secara penuh. Penginjeksian steam menyebabkan terjainya pengadukan, meskipun pada beberapa kondisi digunakan mesin pengaduk. Dalam operasi, autoclave diisi dengan lemak dan air yang jumlahnya (sekitar ± ½ dari lemak) dan katalis. Steam dihembuskan guna menggantikan udara terlarut dan autoclave ditutup. Steam yang digunakan untuk menaikkan tekanan sampai 1135 kPa dan diinjeksikan secara kontiniu, sementara sebagian kecil kisi-kisi menjaga agitasi dan tekanan operasi. Konversi dapat dicapai lebih dari 95% setelah 6-10 jam. Isi dari autoclave dipindahkan ke tangki, dimana terbentuk asam lemak dibagian atas dan gliserin pada bagian bawah. Asam lemak yang terbentuk ditambahkan asam mineral untuk memisahkan kandungan sabun dan selanjutnya dilakukan pencucian kembali guna memisahkan sisa asam mineral.


Gambar 2.4 Proses Autoclave Batch

( 3 ) Proses Kontinu
            Proses kontiniu merupakan proses pemisahan lemak dengan menggunakan suhu dan tekanan yang tinggi. Proses pemisahan asam lemak lebih dikenal dengan proses Coltage-Emery, merupakan metode yang paling efisien dalam hidrolisis lemak. Suhu dan tekanan tinggi dipergunakan untuk mempercepat waktu reaksi. Aliran counter current dipenuhkan oleh minyak dan air guna menghasilkan suatu derajat pemisahan yang maksimal tanpa memerlukan katalis.
Menara pemisah merupakan bagian utama dari proses ini. Kebanyakan dari menara pemisah mempunyai konfigurasi sama dan dioperasikan dengan cara yang sama. Tergantung dari kapasitas, menara bisa berkapasitas pad diameter 508-1220 mm dengan tinggi 18-25 m dan terbuat dari bahan tahan korosi seperti baja stainless 316 atau campuran logam yang dirancang untuk beroperasi pada tekanan sekitar 5000 kPa.
            Gambar 4 menunjukkan suatu rancangan Single-stage Countercurrent splitting, lemak terdegradasi pada sebuah cincin  sparge bagian tengah sekitar 1 meter dari dasar dengan sebuah pompa bertekanan tinggi. Air terdapat pada bagian atas dengan perbandingan 0-50% dari berat lemak. Temperatur pemisahan yang tinggi (250-260 oC) cukup menjamin penghancuran fase air pada minyak.
            Volume kosong menara digunakan sebagai tempat reaksi. Lemak mentah lewat sebagai fase yang saling bersentuhan dari dasar atas menara, sementara cairan lebih berat mengalir turun sebagai fase terdispersi dalam bentuk campuran lemak dan asam. Derajat pemisahan dapat dicapai hingga 99%. Proses continiu countercurrent tekanan tinggi memecah lemak dan minyak dengan lebih efisien dari pada proses lain dengan lama reaksi 2-3 jam.

Konsumsi utilitas untuk per ton umpan adalah :
                        Steam (6000 kPa)        190 kg
                        Air pendingin (20oC)  3 m3
                        Energi elektrik             10 kWj
                        Air proses                    0,6 m3


Gambar 2.5 Single-stage countercurrent splitting


( 4 ) Pemecahan secara enzimatis
            Lemak dan minyak dapat dihidrolisis dengan enzim alami. Pemecahan lemak dengan enzim telah dilakukan melalui percobaan. Tetapi saat ini prosesnya tidak begitu dianggap penting karena biayanya yang mahal dan waktu reaksinya yang lama.
            Pemecahan lemak dan minyak secara enzimatis oleh lipase dari Candida Rugosa, Aspergilus niger, dan Rhizopus Arrhizus telah dipelajari pada range temperatur 26-40 oC dengan periode 48-72 jam dengan hasil pemecahan kira-kira    98 %


Gambar 2.6 Reaksi Pemecahan Minyak dan Lemak

2.3.            Perbandingan Beberapa Proses Fat Splitting
2.3.1.      Proses Twitchell
o   Suhu (oC) : 100-105
o   Katalis : Asam alkil - aril sulfonat atau siklo alifatik
o   Waktu (jam) : 12-48
o   Perolehan : 85-98 %, larutan gliserol 5-15 % bergantung pada jumlah tahap dan jenis lemak.
o   Keuntungan :   -    Suhu dan tekanan rendah
-          Biaya investasi awal relatif rendah
o   Kelemahan :    -    Waktu reaksi lama
-          Konsumsi steam tinggi, cendrung membentuk asm berwarna gelap
-          Perlu lebih dari satu tahap untuk mendapatkan perolehan tinggi
-          Pengendalian manual
-          Biaya tenaga kerja tinggi
2.3.2.      Proses Autoclave Batch
o   Suhu (oC) : 150-240
o   Katalis : Seng, kalsium atau magnesium oksida
o   Tekanan (MPag) : 2,9-10,0
o   Waktu (jam) : 2-10
o   Perolehan : 85-98 %, larutan gliserol 10-15 % bergantung pada jumlah tahap dan jenis lemak.
o   Keuntungan :   -    Dapat diadaptasikan untuk skala kecil
-          Biaya investasi awal lebih murah dari pada proses kontinu
-          Lebih cepat dari pada proses twitchell
o   Kelemahan :    -    Investasi awal agak tinggi
-          Waktu reaksi lebih lambat dari pada proses kontinu
-          Otomalisasi pengendalian lebih sukar dibanding proses kontinu
-          Biaya tenaga kerja tinggi
-          Perlu lebih dari satu tahap untuk mendapatkan perolehan lebih baik
2.3.3.      Proses Kontinu
o   Suhu (oC) : 250
o   Katalis : opsional
o   Waktu (jam) : 2-3
o   Perolehan : 97-99 %, larutan gliserol 10-25 % bergantung pada jumlah tahap dan jenis lemak.
o   Keuntungan :   -    Tidak butuh ruangan yang luas
-          Kualitas produk lebih seragam
-          Perolehan lebih tinggi
-          Konsentrasi gliserin lebih tinggi
-          Biaya operasional lebih murah
-          Pengendalian lebih akurat karena otomatis
o   Kelemahan :    -    Investasi awal tinggi
-          Suhu dan tekanan tinggi
-          Perlu tingkat keahlian penanganan yang tinggi
2.3.4.      Proses Secara Enzimatis
o   Suhu (oC) : 25-46
o   Katalis : Lipase dari candida rugosa, Aspergillus niger dan Rhizopus arrhizus
o   Waktu (jam) : 48-72
o   Perolehan : 98 %
o   Keuntungan :         Perolehan lebih tinggi
o   Kelemahan :    -    Waktu reaksi lama
-          Investasi awal tinggi
2.4.      Penyulingan Asam Lemak dan Operasi Fraksionasi
Zat asam yang mengandung lemak diproduksi dari proses pemecahan lemak yang dibersihkan dan dibersihkan dengan penyulingan dan fraksinasi.
Penyulingan zat asam yang mengandung lemak kasar.
Zat asam yang mengandung lemak sangat sensitif bila dipanaskan, dioksidasi, dan dapata menimbulkan karat. Ini berkaitan dengan asam reaktif yang mengandung rantai karbon. Faktor ini dipertimbangkan berdasarkan perancangan unit penyulingan dan parameter operasi. Penyulingan dibawa ke ruangan yang hampa dan menurunkan temperatur sehingga memperpendek waktu proses.
Teknik perancangan kebanyakan unit penyulingan menonjolkan kehampaan tinggi dengan tidak mengalami kebocoran udara, pemanasan efektif untuk mencapai waktu kontak yang pendek, peredaran yang baik untuk transfer massa antara uap air dan air kondensasi, dan pemakaian uap air. Pengaturan internal dari kolom penyalur dengan tujuan yang terakhir tentang keberhasilan sasaran hasil desain  diikuti langkah-langkah yang berbasis proses adalah sama. Gambar 5 dan 6 menunjukkan penyulingan zat asam yang mengandung lemak oleh Badger dan   Lurgi. 
Zat asam yang mengandung lemak kasar dikeringkan melewati bawah ruang hampa dan dimasukkan pada unit destilasi, dioperasikan pada suatu ruang hampa 1,2 kPa atau temperatur kira-kira 200°C. Uap air disajikan untuk meningkatkan peredaran dan mengurangi tekanan parsial, dengan menurunkan temperatur dan mengurangi penurunan degradasi. Panas memudahkan pengurangan kotoran seperti halnya bau dan warna dari uap air yang meninggalkan sistem itu. Lemak yang disaring mempunyai warna putih dan bebas dari ketidakmurnian.
Akhirnya diperoleh komponen didih yang tinggi, kualitas yang rendah, yang dapat dipisahkan lagi atau didaur ulang secara langsung atau penyulingan kembali. Hasil samping atau residu adalah material polymerized, yang mana dibuang oleh campuran minyak yang bersifat sisa dan dapat digunakan sebagai ketel uap. Mungkin juga dapat digunakan sebagai bahan aditif aspal.


BAB III
KESIMPULAN

1.    Fat splitting (Pemecahan Lemak) adalah proses pemecahan lemak dengan reaksi hidrolisa antara air dan minyak menghasilkan gliserol dan asam lemak .
2.    Proses pemecahan lemak (fat splitting) ada empat macam yaitu proses Twitchell, proses Autoclave Batch, proses Kontinu, dan proses secara Enzimatis
3.    Pemilihan proses dipertimbangkan berdasarkan : konversi produk yang tinggi, waktu reaksi lebih singkat, dan biaya operasi yang lebih murah
4.    Berdasarkan kriteria pemilihan proses di atas, maka proses kontinu adalah proses yang paling baik untuk diterapkan dalam proses pemecahan lemak yang paling efektif dan efisien


DAFTAR PUSTAKA

Gervajio, G, C. 2005. Fatty Acid and Derivatives From Coconut Oil, http://media.wiley.com/product_data/excerpt/68/04713854/0471385468.pdf. 12 September 2015.
Hui, Y, H. 1996. Bailey’s Industrial Oil Fat Products. Volume 6. United States, Willy Intercelence.
Indrianty, Y. 2005. Prarancangan Pabrik Asam Lemak. Pekanbaru, UNRI.
Penulis. 2005. Pengembangan Teknologi Untuk nilai tambah Sawit. http://seafast.ipb.ac.id/seafast.info/informasi%20gratis/Teknologi%20untuk%20Memperoleh%20Nilai%20Tambah%20Sawit.pdf. 12 September 2015.
Sunardi, 2004. Pra Rancangan Pabrik Gliserin dari Crude Palm Oil (CPO). Pekanbaru, UR.
Tambun, R. 2007. Buku Ajar Teknologi Oleokimia. http://e-course.usu.ac.id/content/teknik0/teknologi0/textbook.pdf. 13 September 2015.

                                                                           


Kamis, 12 Mei 2016

STRATEGI MEMILIH UNIVERSITAS DAN JURUSAN DI SBMPTN 2016

Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri atau yang disingkat dengan SBMPTN . Perhitungkan dan tentukan jurusan sesuai dengan minat dan passion yang anda miliki. Jangan sampai kesalahan dalam memilih jurusan pada SBMPTN karena hal ini membuat anda gagal.
Memilih jurusan kuliah bukan hal yang mudah. Memilih secara tergesa-gesa tanpa memperhitungkan segala aspek akan berakibat fatal, karena salah memilih jurusan kuliah akan berdampak besar pada masa depan anda. Namun jangan khawatir, yang kita perlukan hanyalah mengatur strategi yang tepat dalam memilih jurusan.
Sebelum membahas lebih jauh, setidaknya kalian harus tahu terlebih dahulu, aturan-aturan teknik dalam pemilihan jurusan di SBMPTN 2016. Berikut uraiannya :
  1. Peserta dapat memilih program studi sebanyak-banyaknya 3 (tiga) program studi
  2. Peserta ujian yang hanya memilih 1 (satu) program studi dapat memilih program studi di PTN manapun.
  3. Peserta ujian yang memilih 2 (dua) program studi atau lebih, salah satu pilihan program studi tersebut harus di PTN yang berada dalam satu wilayah dengan tempat peserta mengikuti ujian. Pilihan program studi yang lain dapat di PTN di luar wilayah tempat peserta mengikuti ujian.
Setelah anda mengetahui aturan teknik dalam pemilihan jurusan pada SBMPTN 2016. Selanjutnya kami akan membongkar bagaimana strategi memilih jurusan pada SBMPTN 2016 ini, agar tidak salah memilih jurusan dan tidak berakibat fatal kedepannya. Berikut 6 cara tepat memilih jurusan kuliah di Perguruan Tinggi Negeri:
  1. Sesuaikan Cita-Cita 
Jika anda telah memiliki cita-cita tertentu, maka lihatlah jurusan kuliah yang anda pilih, apakah berhubungan erat dengan cita-cita anda dan dapat membawa anda menuju profesi yang anda inginkan. Jika berhubungan, maka pilihlah jurusan itu. 
  1. Sesuai Minat dan Bakat
Dalam memilih jurusan kuliah, jangan pernah anda memilih jurusan itu karena teman anda atau karena orangtua anda. Pilihlah jurusan yang sesuai dengan minat dan bakat anda, agar anda dapat lebih mudah mengikuti perkuliahan yang ada.
  1. Kumpulkan Informasi
Carilah informasi akurat sebanyak mungkin dari jurusan kuliah yang anda pilih, agar anda bisa menjadikan informasi akurat sebagai bahan pertimbangan anda untuk memilih jurusan. Jangan mudah terpengaruh dengan orang lain yang kurang menkamisai informasi tentang jurusan kuliah yang akan diambil, jangan juga anda memilih jurusan kuliah karena ikut-ikutan teman. Anda bisa bertanya pada saudara anda yang sudah kuliah, atau senior sekloah anda yang sama jurusannya dengan jurusan yang anda minati.
  1. Andakasi dan Biaya
Mengapa andakasi dan biaya harus anda pertimbangkan? Karena hal ini akan menjadi acuan untuk anda yang perekonomiannya terbatas. Pilihlah kampus yang dekat dengan rumah dan jurusan dengan biaya minim, atau anda bisa memilih andakasi luar kota yang memiliki biaya hidup yang rendah. Pilih juga tempat kuliah yang biaya pendidikan tidak terlalu tinggi.
  1. Daya Tampung Jurusan / Peluang Diterima
Perhatikan daya tampung suatu jurusan di PTN dan PTS favorit, karena biasanya jurusan favorit akan memiliki daya saing yang sangat banyak. Jangan membebani diri anda dengan target berkuliah di jurusan favorit tertentu. Buat banyak pilihan tempat kuliah beserta jurusannya. Ukur kemampuan untuk melihat sejauh mana peluang menempati suatu jurusan di tempat favorit yang anda pilih. Jika anda sudah bisa memastikannya, pilihlah jurusan yang sesuai dengan kemampuan anda.
  1. Masa Depan (Karir dan Peluang Kerja)
Mengapa perlu memperhatikan prospek dan masa depan ketika kita mengambil suatu jurusan kuliah? Ini berfungsi untuk melihat bagaimana prospek pekerjaan anda setelah lulus nanti. Pilihlah jurusan yang memiliki prospek peluang kerja lebih besar kedepannya, agar setelah lulus anda bisa langsung bekerja.
Itulah beberapa startegi dalam memilih jurusan. Sebelumnya kami ingin mengingatkan bahwa waktu pendaftaran SBMPTN 2016 tidak lama. Saran pertama dari kami, jangan daftar di tiga hari terakhir karena trafik ke websitenya akan sangat padat, jadi loadingnya suka lama dan gagal konek ke websitenya. Selain itu, ada kemungkinan tempat ujian juga penuh. Jadi setelah baca artikel ini, coba secepatnya direnungkan, dipertimbangkan, dan segera daftar SBMPTN sebelum trafik ke websitenya keburu padat.
Dan yang terpenting tetap berusaha, dengan diiringi Do'a dan mohon restu dari Orang tua. 
Milikmu tak akan menjadi milik orang lain, jika Tuhan telah berjanji itu untukmu. Semangat...!

Rabu, 11 Mei 2016

KONVERSI SAMPAH KOTA PEKANBARU MENJADI ENERGI LISTRIK ALTERNATIF DENGAN METODE GASIFIKASI

 

 

 

 

KARYA TULIS ILMIAH

 

KONVERSI SAMPAH KOTA PEKANBARU MENJADI ENERGI LISTRIK ALTERNATIF DENGAN METODE GASIFIKASI

 

 

Di susun oleh:

AZHARI HARAHAP (1307112953/ANGKATAN 2013)

MELIANA DEWI (1307123438/ANGKATAN 2013)

 

 

UNIVERSITAS RIAU

PEKANRAU

2015

 




KATA PENGANTAR

Syukur alhamdulillah kami ucapkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan izin dan kekuatan kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini dengan judul Konversi Sampah Kota Pekanbaru Menjadi Energi Listrik Alternatif dengan Metode Gasifikasi”. Selawat beserta salam ke Rasulullah SAW.

Tak lupa kami mengucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing Ibu Syelvia Putri Utami, ST, M. Eng. yang telah membantu kami dalam mengerjakan karya tulis ilmiah ini.Kami juga mengucapkan terimakasih kepada teman-teman mahasiswa yang juga sudah memberi kontribusi baik langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan karya tulis ilmiah ini.Tentunya ada hal-hal yang ingin kami berikan kepada masyarakat dari hasil karya tulis ilmiah ini.Karena itu kami berharap semoga karya tulis ilmiah ini dapat menjadi sesuatu yang berguna bagi kita bersama.

Pada bagian akhir, kami akan mengulas tentang berbagai masukan dan pendapat dari orang-orang yang ahli di bidangnya, karena itu kami harapkan hal ini juga dapat berguna bagi kita bersama. Semoga karya tulis ilmiah yang kami buat ini dapat membuat kita mencapai kehidupan yang lebih baik lagi.



      Pekanbaru, April 2015


  Penulis







KONVERSI SAMPAH KOTA PEKANBARU MENJADI ENERGI LISTRIK ALTERNATIF DENGAN METODE GASIFIKASI
Azhari Harahap dan Meliana Dewi
Syelvia Putri Utami, ST , M.Eng
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Riau
Abstrak
Sampah merupakan permasalahan setiap daerah, baik pedesaan maupun perkotaan.Dengan jumlah penduduk yang padat, Kota Pekanbaru berpotensi menghasilkan sampah hingga 11 ton setiap harinya.Upaya pemanfaatan limbah biasanya ditekankan pada konsep R, yaitu reduce, recovery, reuse, recycle, dan reclamation. Sedangkan teknologi penangan untuk sampah diantaranya adalah metode sanitary landfill, gasifikasi, pirolisis baik menggunakan katalis maupun tidak menggunakan katalis, dan insinerasi. Ada juga beberapa alternatif penanganan lain yang dapat dilakukan, seperti pembriketan, pengkomposan, digestor anaerobic, maupun dijadikan pellet untuk pakan ternak. Sampah Kota Pekanbaru yang menumpuk di TPA dapat dimanfaatkan menjadi energi listrik dengan menggunakan proses gasifikasi. Mula-mula sampah yang terkumpul diturunkan kadar airnya dan dirajang untuk menyeragamkan ukuran. Sampah selanjutnya dibakar pada suhu 150–900°C, diikuti oleh proses oksidasi gas hasil pirolisa pada suhu 900–1400°C, serta proses reduksi pada suhu 600–900°C dengan gasifier tipe downdraft. Gas-gas dan partikel halus masuk ke dalam combustion chamberdan dibakar pada suhu >1600F. Panas dari gas direcovery dengan water wall dan boiler untuk menghasilkan uap air.Steam yang dihasilkan dari boiler kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin. Melalui generator listrik diubah menjadi energi listrik yang dapat langsung didistribusikan.Hasil pembakaran sampah ini akan menghasilkan gas buangan yang mengandung CO, CO2, O2, NOX dan SOX yang diikuti oleh penurunan kadar O2. Teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi NOX adalah denitrifikasi. Denitrifikasi dilakukan dengan menginjeksi amonia ke dalam peralatan denitrifikasi. Gas NOX didalam gas buang akan bereaksi dengan amonia (dengan bantuan katalis) sehingga emisi NOX akan berkurang. Untuk mengurangi emisi SO2 digunakan teknologi desulfurisasi, baik FGD basah maupun FGD kering. Pengendalian partikel debu pada gas buang dilakukan dengan teknologi dedusting. Peralatan ini dipasang setelah peralatan denitrifikasi. Salah satu jenis peralatan ini adalah elestrostatic precipitator (ESP), berupa elektroda yang ditempatkan pada aliran gas buang. Elektroda diberi tegangan antara 40-60 kV DC sehingga dalam elektroda akan timbul medan magnet. Setelah gas buang melewati peralatan-peralatan pengendalian emisi gas buang NOX, SO2 dan partikel debu, gas dialirkan ke cerobong dan di buang ke udara bebas diketinggian.
Kata Kunci : Emisi, Gasifikasi, Listrik, Sampah.





BAB I

PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Sampah  dan  energi  merupakan  hal krusial saat ini terutama untuk kota besar. Dikota  besar,  kepadatan  penduduk menyebabkan  penumpukan  volume  sampah yang  tidak kecil.  Disisi  lain,  kebutuhan  akan energi sebagai penunjang kehidupan mereka meningkat  semakin  tajam. Keterbatasan energi  yang  bergantung  pada  energi  fosil memaksa  pencarian  energi  alternatif  baru untuk  mengganti  energi  fosil.  Sampah  yang volumenya  semakin  menumpuk  dapat dimanfaatkan  untuk  menghasilkan  energi alternatif  penghasil  bahan  bakar  pengganti bahan bakar fosil melalui pirolisis[Widya, et al : 2013].

Saat ini, penumpukan sampah rumah tangga merupakan salah satu masalah yang sulit di tangani. Produksi sampah yang dihasilkan masyarakat Pekanbaru sendiri terus mengalami peningkatan secara signifikan dari 8 ton dalam sehari, saat ini sudah meningkat tajam menjadi 11 ton per hari [riau.go.id : 2014].Beberapa usaha yang telah berlangsung di TPA untuk mengurangi volume sampah seperti pengambilan oleh pemulung pada sampah yang dapat didaur ulang. Penanganan sampah yang mudah busuk telah dilakukan pengolahan dengan komposting. Namun usaha tersebut masih menyisakan sampah yang harus dikelola dan memerlukan biaya yang tinggi dan lahan luas. Penanganan residu sampah di TPA hingga saat ini masih menggunakan pembakaran dan  open dumping. Pembakaran bigasanya dilakukan dengan insenerator atau pembakaran di tempat terbuka. Hal tersebut menimbulkan permasalahan baru bagi lingkungan, yaitu pencemaran tanah, air, dan udara[Garg, et al : 2009].

Sampah organik biodegradable membutuhkan waktu proses yang relatif lama untuk dapat kering secara alami, yaitu sekitar 30-50 hari dengan komposting. Penggunaan sampah sebagai bahan bakar mempunyai dua tujuan, pertama untuk mereduksi sampah yang akan  masuk di landfill  dan memberikan substansi energi bahan bakar fosil[Garg, et al : 2009].

Kebutuhan listrik riau ketika beban puncak bisa mencapai 225,80 MW dan belum didukung pasokan listrik memadai. Dalam masalah listrik, Riau ibarat pepatah, ”Besar Pasak daripada Tiang“. Karena, lima pembangkit yang memasok listrik ke wilayah Riau masih belum mampu memenuhi total kebutuhan listriknya. Lima pembangkit listrik itu hanya mampu memasok 190,8 mega watt (MW). Pembangkit itu terdiri Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang 114 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) Teluk Lembu 43,3 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Teluk Lembu 7,5 MW, PLTD Dumai atau Bagan Besar 8 MW dan PLTG Riau Power 20 MW. Jadi Riau masih defisit sampai 135,47 MW [pln.co.id : 2015].
Dari permasalahan di atas, akan dikaji bagaimana pemanfaatan sampah Kota Pekanbaru menjadi energi alternatif untuk mengatasi masalah kekurangan listrik di riau.

1.2         Rumusan Masalah

1.             Bagaimanakah pemanfaatan sampah di Kota Pekanbaru menjadi energi listrik alternatif?

2.             Bagaimanakah proses konversi sampah menjadi energi listrik?

3.             Bagaimanakah pengendalian emisi gas buang dan limbah padat hasil proses pembangkit energi listrik?

1.3         Tujuan

1.             Memanfaatkan sampah di Kota Pekanbaru menjadi energi listrik alternatif.

2.             Mengetahui proses konversi sampah menjadi energi listrik.

3.             Mengetahui cara pengendalian emisi gas buang dan limbah padat hasil proses pembangkit energi listrik.

1.4         Manfaat

1.             Bagi Peneliti

Meningkatkan  kreativitas  dan  menumbuhkan  kepekaan  terhadap  lingkungan sekitar dan turut serta dalam membantu permasalahan di masyarakat.

2.             Bagi Masyarakat

Memberikan cara alternatif untuk memanfaatkan sampah perkotaan yang belum termanfaatkan sebagai sumber energi listrik alternatif .

 

 

3.             Bagi Pemerintah

Memberikan  gambaran  kebijakan terkait pengolahan  sampah perkotaan  dan memberikan alternatifsumber energi yang dapat digunakan untuk mengahadapi krisis energi listrik di Indonesia.




BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1         Penanganan Sampah Saat Ini
Sampah waste, atau garbage merupakan bahan sisa dari kegiatan manusia yang dianggap tidak lagi memiliki nilai ekonomis. Sampah bisa digolongkan menjadi sampah anorganik, seperti plastik dan logam tidak dapat diolah dengan cara memanfaatkan aktivitas organisme hidup lainnya (non-biodegradable waste) dan sampah organik atau biodegradable wasteyang berasal dari sisa makanan, tumbuhan, hewan, kertas, plastik jenis biodegradable, manure (kompos), dan sewage (liquid waste)[Wahyono : 2001].
Gambar 1Komposisi sampah
Prosedur penanganan sampah yang umum dilaksanakan oleh daerah perkotaan saat  ini adalah dengan metode 3P (pengumpulan,  pengangkutan dan pembuangan). Sampah dikumpulkan dari sumbernya dan diangkut ke tempat penampungan sementara (TPS) lantas diangkut lagi ke tempat pembuangan akhir (TPA). Diperkirakan hanya sekitar 60 % sampah di kota-kota besar bisa terangkut ke TPA karena jumlah armada angkutan sampah masih jauh dari jumlah yang diperlukan. TPA yang beroperasi saat ini umumnya menggunakan sistem landfill  atauopendumping.Area open dumping biasanya berupa area terbuka cukup luas yang digali atau bekas jurang. Area tersebut kemudian digunakan  sebagai tempat pembuangan sampah dari segala penjuru kota. Pengoperasian open dumpingrelatif mudah, murah dan luwes. Namun fasilitas ini berpotensi mendatangkan masalah pada lingkungan terutama dari air lindi (leachate) yang dapat mencemari air tanah serta timbulnya bau dan lalat yang mengganggu [Wahyono : 2001].
2.2         Pendayagunaan Sampah
Terminologi daur-ulang di Indonesia sudah cukup lama digunakan, namun selama ini pengertiannya bukan hanya identik dengan recycle, tapi digunakan juga untuk menjelaskan aktivitas lain, seperti reuse dan sebagainya.
Gambar 2Tingkatan hierarki sampah
Upaya pemanfaatan limbah biasanya ditekankan pada hal-hal sebagai berikut.
1.             Reduce, yaitu upaya mengurangi terbentuknyalimbah, termasuk penghematan atau pemilihan bahan yang dapat mengurangi kuantitas limbah serta sifat bahaya dari limbah.
2.             Recovery, yaitu upaya untuk memberikan nilai kembali limbah yang terbuang, sehingga bisa dimanfaatkan kembali dalam berbagai bentuk, melalui upaya pengumpulan dan pemisahan yang baik.
3.             Reuse, yaitu upaya yang dilakukan bila limbah tersebut dimanfaatkan kembali tanpa mengalami proses atau tanpa transformasi baru, misalnya botol minuman kembali menjadi botol minuman
4.             Recycle, yaitu misalnya botol minuman dilebur namun tetap dijadikan produk yang berbasis pada gelas. Bisa saja terjadi bahwa kualitas produk yang baru sudah mengalami penurunan dibanding produk asalnya.
5.             Reclamation, yaitu bila limbah tersebut dikembalikan menjadi bahan baku baru, seolah-olah sumber daya dalam yang baru. Limbah tersebut diproses terlebih dahulu, sehingga dapat menjadi input baru dari suatu kegiatan produksi, dan dihasilkan produk yang mungkin berbeda dibanding produk asalnya [Damanduri & Padmi : 2011].
2.3         Teknologi Penanganan Sampah
2.3.1   Sanitary Landfill
Sanitary landfill merupakan pembuangan akhir sampah di suatu area terbuka skala besar dan tempat  pembuangan  itu dirancang untuk sedapat mungkin  tidak mencemari lingkungan, misalnya dengan memberi lapisan kedap air pada dasar landfill, membuat saluran air lindi, pemipaan gas dan penutupan dengan lapisan tanah secara reguler. Dengan  sistem itu diharapkan masalah bau, lalat, polusi air atau tanah dapat direduksi atau dihilangkan. Adanya proses dekomposisi sampah  di  dalam sanitary landfill menghasilkan biogas yang dapat dipanen dan dimanfaatkan sebagai bahan  bakar [Damanhuri, 2001].
2.3.2   Gasifikasi
Gasifikasi adalah proses pengubahan materi yang mengandung karbon seperti batubara, minyak bumi, maupun biomassa ke dalam bentuk karbon monoksida (CO) dan hydrogen (H2) dengan mereaksikan bahan baku yang digunakan pada temperatur tinggi dengan jumlah oksigen yang diatur. Tujuan dari proses ini adalah untuk mengubah unsur-unsur pokok dari bahan bakar yang digunakan ke dalam bentuk gas yang lebih mudah dibakar, sehingga hanya menyisakan abu dan sisa-sisa material yang tidak terbakar (inert).
Reaktor gasifikasi dapat dibagi ke dalam beberapa kategori berdasarkan sumber panas dan arah aliran gas yang terjadi, yaitu sebagai berikut [Hantoko, et al : 2015].
1.             Reaktor Gasifikasi Tipe Updraft
Pada reaktor gasifikasi tipe updraft, zona pembakaran (sumber panas) terletak di bawah bakan bakar dan bergerak ke atas seperti tampak dalam gambar 2.3. Berdasarkan gambar di bawah, tampak bahwa gas panas yang dihasilkan mengalir ke atas melewati bahan bakar yang belum terbakar sementara bahan bakar akan terus jatuh ke bawah. Kekurangan tipe ini adalah produksi asap yang berlebihan dalam operasinya.
Gambar 3 reaktor gasifikasi tipe updraft
2.             Reaktor Gasifikasi Tipe Downdraft
Pada reaktor gasifikasi tipe ini, sumber panas terletak di bawah bahan bakar seperti pada gambar 2.4 tampak bahwa aliran udara bergerak ke zona gasifikasi di bagian bawah yang menyebabkan asap pirolisis yang dihasilkan melalui zonagasifikasi yang panas. Hal ini membuat tar yang terkandung dalam asap terbakar, sehingga gas yang dihasilkan oleh reaktor ini lebih bersih. Keuntungan tipe ini adalah reaktor ini dapat digunakan untuk operasi gasifikasi yang berkesinambungan dengan menambahkan bahan bakar melalui bagian atas reaktor. Namun untuk operasi yang berkesinambungan dibutuhkan sistem pengeluaran abu yang baik, agar bahan bakar bias ditambahkan kedalam reaktor.
Gambar 4 Reaktor Gasifikasi Tipe Downdraft
3.             Reaktor Gasifikasi Tipe Inverted Downdraft
Prinsip kerja reaktor gasifikasi tipe ini sama dengan prinsip kerja reaktor gasifikasi downdraft gasifiers. Perbedaan antara reaktor gasifikasi downdraftgasifiers dengan reaktor gasifikasi inverted downdraft gasifiers terletak pada arah aliran udara dan zona pembakaran yang dibalik, seperti pada gambar 2.5. Sehingga bahan bakar berada pada bagian bawah reaktor dengan zona pembakaran diatasnya. Aliran udara mengalir dari bagian bawah ke bagian atas reaktor.
Gambar 5 Reaktor Gasifikasi Tipe Inverted Downdraft
4.             Reaktor Gasifikasi Tipe Crossdraft
Pada reaktor ini, aliran udara mengalir tegak lurus dengan arah gerak zona pembakaran. Reaktor tipe ini memungkinkan operasi yang berkesinambungan apabila memiliki sistem pengeluaran abu yang baik.
5.             Reaktor Gasifikasi Tipe Fluidized Bed
Pada reaktor gasifikasi tipe ini, bahan bakar bergerak di dalam reaktor. Sebuah fan bertekanan tinggi diperlukan untuk menggerakkan bakan bakar yang sedang digasifikasi. Kekurangan reaktor gasifikasi tipe ini adalah mahalnya ongkos yang digunakan untuk sistem seperti ini.
2.3.3   Pirolisis
Pirolisis dapat didefinisikan sebagai dekomposisi thermal material organik pada suasana  inert(tanpa kehadiran oksigen) yang akan menyebabkan terbentuknya senyawa volatil. Pirolisis pada umumnya diawali pada suhu 200°C dan bertahan pada suhu sekitar 450–500 °C. Pirolisis suatu biomassa akan menghasilkan tiga macam produk, yaitu produk gas, cair, dan padat (char). Jumlah produk gas, cair dan chartergantung pada jenis prosesnya (suhu dan waktu pirolisis), seperti terlihat pada tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Produk Cair, Padat dan Gas pada Berbagai Jenis Pirolisis
Jenis Pirolisis
Komposisi
Gas
Cair
Padat (Char)
Fast Pyrolysis
- suhu moderat (500 °C)
- waktu pirolisis singkat ( < 2 detik)
13 %
75 % (senyawa organik)
12%
Carbonization
- suhu relatif rendah
- waktu pirolisis lama
35 %
30 % (air)
35 %
Gasification
- suhu tinggi ( > 800 oC)
- waktu pirolisis lama
85 %
5 % (tar)
10 %
[sumber: Danarto, et al : 2010]
Yield  yang  tinggi  dari  cairan fast pyrolysis dapat diperoleh dari kombinasi yang optimal,antara laintingkat pemanasan yang sangat tinggi, temperatur uap air di bawah 600°C, residence timeuap air yang sangat rendah dan pemunduran yang cepat dari resultan uap air. Meskipun produk utama dari gas, cair dan charterbentuk, antara gas dan chardiperkecil melalui kontrol temperatur dan residence timesecara umum 15-20% berat dari bahan baku kering. Temperatur tinggi yang dibutuhkan untuk pirolisis dapat diperoleh dalam beberapa cara, antara lainmemanaskan campuran gas-padat melalui dinding reaktor, memanaskan dengan transfer panas medium yaitu gas, misalnya preheated recycle gasatau cair, misalnya molten metalatau molten salt dan memanaskan melalui reaksi eksotermis ke dalam reaktor, misalnya oksidasi parsial [Danarto, et al : 2010].
2.3.4   Pirolisis Katalitik
Pirolisis katalitik adalah proses pirolisis yang menggunakan katalisator.Katalisator di sini berfungsi untuk memecah hidrokarbon rantai panjang menjadi hidrokarbon rantai pendek (C1-C5). Disamping itu, katalisator mampu meningkatkan kecepatan dekomposisi dan memperbesar produk cair hasil pirolisis.Penelitian  pertama  pirolisis  katalitik,pirolisis polietilen menggunakan katalisator Pt/silika-alumina dan Pt/alumina. Beberapa tahun kemudian dilaporkan bahwa pirolisis polietilen menggunakan katalisator silika-alumina dapat memperpendek rantai polimer dan meningkatkan cabang rantai. Selanjutnyaditemukan bahwa katalisator zeolit merupakan katalisator yang paling efektif. Temperatur optimum pirolisis sampah poliolefin 410–430°C sedangkan jika menggunakan pirolisis katalitik maka temperatur optimum berkisar 390°C. Pirolisis katalitik dengan katalisator zeolit mendapati bahwa produk cair yang diperoleh berupa hidrokarbon dengan range C3 –C15[Danarto, et al : 2010].
2.3.5   Insinerasi
Insinerasi  adalah  proses pembakaran sampah yang  terkendali menjadi gas dan abu di dalamincinerator.  Gas yang dihasilkan adalah karbondioksida dan gas-gas yang  lain yang  kemudian dilepaskan ke udara. Sedangkan abunya dibuang ke TPA atau dicampur dengan bahan lainnya sehingga menjadi  produk  berguna.  Untuk mendapatkan  operasi insinerasi yang optimum dan efisien, proses pembakaran harus dikontrol sehingga residu  yangdihasilkan sekecil mungkin dan emisi gas berbahaya dapat dicegah. Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi proses pembakaran antara lain adalah karakteristik sampah, kontrol pembakaran  (waktu, turbulensi, dan temperatur),  suplai udara (oksigen), bahan bakar yang ditambahkan dan kontrol emisi gas [Shoiful : 2008].
Desain incinerator yang tidak sempurna akan menyebabkan terjadinya polusi udara oleh gas buangnya dan polusi tanah dan air oleh pembuangan residunya. Adanya potensi pencemaran  tersebut mempengaruhi masyarakat untuk berhati-hati dalam menerima teknologi incinerator. Berdasarkan material sampah yang akan  dibakar, incinerator terbagi atas berbagai jenis seperti incinerator di pusat pembuangan sampah (skala TPA), incinerator untuk kawasan terbatas  (skala  TPS untuk pemukiman), incinerator untuk bulky material(seperti ban bekas,  perabotan rumah tangga bekas, sampah kayu, dan sebagainya), incinerator untuk sampah berbahaya (seperti sampah rumah sakit,  sampah radioaktif, dan sebagainya), dan incinerator untuk lumpur (seperti lumpur dari  saluran pembuangan sampah cair) [Shoiful : 2008].
2.4         Alternatif Penanganan Lain
2.4.1   Briket Sampah
Sampah organik yang bersifat keras seperti ranting dan batok kelapa dapat dijadikan briket bahan  bakar.  Sampah tersebut  dibakar di dalam wadah atau drum selapis demi selapis sampai menjadi arang, kemudian  dihancurkan menjadi bubuk. Sementara itu dipersiapkan pula adonan daun segar  yang telah digerus. Serbuk arang dan adonan daun kemudian dicampur dengan komposisi 83% serbuk arang dan 13% adonan daun. Campuran tersebut kemudian dicetak atau dipres menjadi briket dengan beberapa lubang di dalamnya. Fungsi dari adonan daun adalah untuk merekatkan serbuk arang [Fitriyah :2010].
2.4.2   Teknologi Pengkomposan
Teknologi pengkomposan  secara aerob  dapat digunakan untuk sanitasi sampah  karena kemampuannya dalam memproduksi panas yang tinggi dalam jangka waktu tertentu.  Prinsip  utama sanitasi  sampah  dengan  sistempengkomposan  adalah  berdasarkan pedoman hubungan antara  suhu  tinggi dengan waktu pengeksposan terhadap suhu tersebut. Hal ini seperti yang berlaku pada teknik pasteurisasi. Pada teknik pasteurisasi susu dipanaskan sampai suhu 60-63°C selama  20-30  menit  untuk membebaskannya dari bakteri pathogen [Sulistyorini : 2005].
Temperatur yang relatif rendah dengan waktu pengeksposan yang relatif lama akan sama efektifnya dengan temperatur yang tinggi dengan  waktu pengeksposan yang pendek. Proses pengkomposan secara aerobik dapat menghasilkan suhu sampai 70°C dalam waktu yang relatif lama  sehingga menimbulkan efek seperti  proses pasteurisasi yang dapat mereduksi atau membasmi patogen, parasit, dan bibit gulma. Suhu tinggi yang dihasilkan tersebut terjadi secara alamiah sebagai hasil dari proses  degradasi materi organik dalam kondisi aerobic [Sulistyorini : 2005].
2.4.3   Digestor Anaerobik
Sampah organik dapat difermentasikan di ruang tertutup  (reaktor atau digestor) secara  anaerobik untuk menghasilkan biogas. Sebelum dimasukan ke dalam digestor, sampah dicacah terlebih dahulu dan dijadikan bubur. Dengan memanfaatkan kinerja bakteri anaerobik, dari sampah yang terdekomposisi  muncul  gas  yangmengandung metan. Dari 1 m3biogas akan terkandung energi sekitar 5500 kcal yang ekuivalen dengan 0,58 liter bensin atau 5,80 kWH listrik [Damanhuri : 2001]. 


2.4.4   Pelet Pakan Ternak
Sisa-sisa makanan dari  warung makan atau restoran dapat dimanfaatkan menjadi pelet. Pertama, sisa makanan dicacah dan diblender  menjadi  bubur setengah padat. Kemudian padatan tersebut masuk ke dalam screw presssehingga kadar airnya berkurang dan  selanjutnya masuk ke peletizer. Padatan yang  sudah menjadi pelet kemudian dikeringkan dan dikemas, siap menjadi pakan ternak[Balai Pengkajian TeknologiPertanian Bali : 2006].
2.5         Teknologi Sterilisasi Sampah Organik
Umumnya patogen bersifat mesofil, yakni hidup pada suhu dibawah 40°C. Oleh karena itu, patogen akan mati jika diekspos pada suhu tinggi dalam waktu tertentu. Teknologi  yang dapat digunakan untuk mereduksi dan membasmi patogen yang berada dalam sampah organik antara  lain adalah  pasterurisasi, perlakuan dengan panas yang tinggi, iradiasi  dan pengkomposan. Diantara keempat teknologi tersebut, teknologi pengkomposan merupakan cara yang mudah, murah, dan cocok untuk kondisi Indonesia. Teknologi sanitasi selain kompos biayanya besar dan operasional serta pemeliharaanya juga relatif sulit [Wahyono : 2001].



BAB III
METODE PENULISAN

   Penulisan karya tulis dilakukan dengan telaah pustaka. Dengan mempelajari berbagai literatur yang berhubungan dengan masalah maka diambil kesimpulan yang merupakan jawaban dari permasalahan yang dikaji. Literatur yang dijadikan referensi berasal dari beberapa buku, jurnal,artikel, serta informasi-informasi dari internet.
   Studi literatur dimulai dengan mendapatkan data jumlah sampah yang ada di Kota Pekanbaru dan suplai listrik yang ada. Data ini sangat diperlukan sebagai dasar perlunya dikembangkan sampah perkotaan Pekanbaru sebagai sumber energi alternatif untuk menghasilkan listrik. Ide tersebut kemudian dianalisis dengan mencari informasi pendukung sehingga ide tersebut mungkin dijadikan alternatif baru penanganan masalah sampah dan krisis energi di Kota Pekanbaru. 
Data selanjutnya yang dicari adalah proses konversi sampah menjadi energi listrik. Berdasarkan data-data yang didapatkan tersebut dapat dijadikan sebagai pedoman pengolahan sampah menjadi energi listrik alternatif. Sehingga dengan mendapatkan cara pembuatannya maka strategi pengembangan konversi sampah menjadi energi listrik dapat dilakukan dan ditariklah sebuah kesimpulan yang merupakan jawaban dari penanggulangan yang ditemukan.



BAB IV
PEMBAHASAN
4.1         Pemanfaatan Potensi Sampah di Kota Pekanbaru
Sampah telah menjadi masalah besar terutama di kota-kota besar di Indonesia. Hingga tahun 2020 mendatang, volume sampah perkotaan di Indonesia diperkirakan akan meningkat lima kali lipat. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 81 Tahun 2012 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga. Pengelolaan sampah adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan dan penanganan sampah. Pengaturan pengelolaan sampah ini bertujuan untuk menjaga kelestarian fungsi lingkungan hidup dan kesehatan masyarakat dan menjadikan sampah sebagai sumber daya [www.sanitasi.net : 2015].
Produksi sampah yang dihasilkan masyarakat Pekanbaru, Riau, terus mengalami peningkatan secara signifikan, jika sebelumnya produksi sampah hanya berkisar 8 ton saja dalam sehari, namun untuk saat ini sudah meningkat tajam menjadi 11 ton per hari[riau.go.id : 2014]. Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Pekanbaru mengatakan, meningkatnya jumlah sampah di Pekanbaru ini disebabkan jumlah penduduk yang juga terus mengalami pertambahan. Saat ini jumlah penduduk Pekanbaru sudah 1,3 juta jiwa. Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan peningkatan jumlah sampah di Kota pekanbaru berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik. Kebutuhan listrik Riau ketika beban puncak bisa mencapai 225,80 MW. Beban puncak yang besar belum didukung pasokan listrik memadai. Karena, lima pembangkit yang memasok listrik ke wilayah Riau masih belum mampu memenuhi total kebutuhan listriknya. Jadi Riau masih defisit sampai 135,47 MW [pln.co.id : 2015].
Proses konversi sampah menjadi energi listrik dilakukan dengan cara gasifikasi yaitu teknologi menggunakan proses pembakaran. Adapun lokasi yang akan digunakan berada di Kelurahan Muara Fajar, Kecamatan Rumbai Pesisir yang berjarak lebih kurang 18,5 km dari pusat Kota Pekanbaru dan kurang lebih 1,2 km dari Kelurahan Muara Fajar serta sekitar 300 m dari rumah penduduk (RT.I/RW.II). Dari pemanfaatan lahan TPA ini akan direncanakan pembanguan PLTU, dimana lahan seluas 8,6 Ha [wikimapia.org : 2015].
4.2         Konversi Sampah menjadi Energi Listrik Melalui Proses Gasifikasi
Sampah dikumpulkan ditempat penampungan yang untuk selanjutnya di bawa untuk dibakar. Sebelum pembakaran, sampah tersebut akan diturunkan kadar airnya dengan cara ditiriskan dalam bunker selama 5 hari.Dikarenakan cuaca yang cukup panas dan jarang hujan di Kota Pekanbaru, sehingga kadar air sampah tidak terlalu tinggi. Setelah kadar air berkurang tinggal 20%, sampah akan dirajang untuk mendapatkan ukuran yang seragam karena keseragaman umpan mempunyai hubungan yang erat dengan kandungan energi dari bahan bakar. Dengan bahan bakar umpan yang seragam maka kualitas gas yang dihasilkan akan lebih stabil.Kemudian dimasukan ke dalam tungku pembakaran, yang kemudian dibakar.
Gasifikasi biomas merupakan proses konversi secara termo-kimia bahan biomas padat menjadi bahan gas. Gasifikasi biomas didefinisikan sebagai pembakaran biomas tidak selesai yang menghasilkan gas bakar yang terdiri dari karbon monoxida (CO), Hidrogen (H2) dan sedikit metana (CH4). Proses gasifikasi pada dasarnya merupakan proses pirolisa pada suhu sekitar 150 – 900°C, diikuti oleh proses oksidasi gas hasil pirolisa pada suhu 900 – 1400°C, serta proses reduksi pada suhu 600–900°C. Baik proses pirolisa maupun reduksi yang berlangsung dalam reaktor gasifikasi terjadi dengan menggunakan panas yang diperoleh dari proses oksidasi. Gasifikasi berlangsung dalam keadaan kekurangan oksigen [teknoperta.wordpress.com].
Baik proses pirolisa maupun reduksi yang berlangsung dalam reaktor gasifikasi terjadi dengan menggunakan panas yang diperoleh dari proses oksidasi. Hasil yang diperoleh dari gasifikasi biomas merupakan campuran beberapa macam gas. Komponen utama bahan bakar dalam gas biomas adalah H2 dan CO. Kandungan CO dalam gas biomas 15 – 30%, sedang H2 antara 10 – 20% [teknoperta.wordpress.com].
Gambar 6 Skema Proses Gasifikasi Sampah Menjadi Energi Listrik
Sampah organik tidak stabil terhadap panas maka bermacam gas dilepaskan selama proses pembakaran. Gas-gas dan partikel halus masuk ke dalam combustion chamberdan dibakar pada suhu > 1600F. Panas dari gas direcovery dengan water wall dan boiler untuk menghasilkan uap air.Steam yang dihasilkan dari boiler kemudian digunakan untuk menggerakkan turbin. Melalui generator listrik diubah menjadi energi listrik yang dapat langsung didistribusikan.Hasil pembakaran sampah ini akan menghasilkan gas buangan yang mengandung CO, CO2, O2, NOX dan SOX yang diikuti oleh penurunan kadar O2[teknoperta.wordpress.com].
4.3         Pengendalian Emisi Gas Buang dan Limbah Padat
4.3.1   Pengendalian Emisi Nitrogen Oksida (NOX)
Teknologi yang digunakan untuk mengurangi emisi NOX adalah denitrifikasi. Denitrifikasi dilakukan dengan menginjeksi amonia ke dalam peralatan denitrifikasi. Gas NOX didalam gas buang akan bereaksi dengan amonia (dengan bantuan katalis) sehingga emisi NOX akan berkurang. Peralatan denitrifikasi sering disebut selective catalytic reduction (SRC). Penerapannya dapat berupa perbaikan sistem boiler atau dengan memasang peralatan denitrifikasi pada saluran gas buang. Dengan peralatan ini NOX dalam gas buang dapat dikurangi sebesar 80-90% [artikel-teknologi.com : 2015].



4.3.2   Pengendalian Emisi Sulfur Oksida (SO2)
Untuk mengurangi emisi SO2 digunakan teknologi desulfurisasi.Nama yang umum untuk peralatan desulfurisasi adalah flue gas desulfurization (FGD).Ada dua tipe FGD yaitu FGD basah dan kering.Pada FGD basah, campuran air dan gamping disemprotkan dalam gas buang.Cara ini dapat mengurangi emisi SO2 sampai 70-95%.Sedangkan FGD kering menggunakan campuran air dan batu kapur yang diinjeksikan ke dalam gas buang.Cara ini dapat mengurangi emisi SO2sampai70-97%. Hasil samping adalah gypsum dalam bentuk cair yang dapat digunakan sebagai campuran bahan bangunan [artikel-teknologi.com : 2015].
4.3.3   Pengendalian Partikel Debu Hasil Pembakaran
Pengendalian partikel debu pada gas buang dilakukan dengan teknologi dedusting.Peralatan ini dipasang setelah peralatan denitrifikasi.Salah satu jenis peralatan ini adalah elestrostatic precipitator (ESP).ESP berupa elektroda yang ditempatkan pada aliran gas buang. Elektroda diberi tegangan antara 40-60 kV DC sehingga dalam elektroda akan timbul medan magnet. Partikel debu dalam gas buang yang melewati medan magnet akan terionisasi dan akan berinteraksi dengan elektrode yang mengakibatkan debu akan terkumpul pada lempeng pengumpul. Lempeng pengumpul digetarkan untuk membuang debu yang sudah terkumpul.Efisiensi ESP untuk menghilangkan debu sangat besar yaitu mencapai 99.9%. Setelah gas buang melewati peralatan-peralatan pengendalian emisi gas buang NOX, SO2 dan partikel debu, gas dialirkan ke cerobong dan di buang ke udara bebas diketinggian [Arief : 2012].



BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1         Kesimpulan
Berdasarkan uraian dari pembahasan maka dapat disimpulkan sebagai berikut.
1.             Gagasan  inovatif  ini  diharapkan  dapat  menjadi  penelitian  lebih  lanjut terhadap  pengkonversian sampahSampah di Kota pekanbaru berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik dengan menggunakan proses gasifikasi.
2.             Dengan dimanfaatkannya sampah di Kota Pekanbaru dapat mengurangi jumlah pencemaran sampah di Pekanbaru demi menjaga kelestarian lingkungan.
3.             Energi listrik yang dihasilkan dari proses Gasifikasi dapat dijadikan sebagai sumber listrik untuk memenuhi kekurangan kebutuhan listrik di Kota Pekanbaru.
5.2         Saran
Pertumbuhan penduduk yang terus meningkat dan peningkatan jumlah sampah di Kota pekanbaru berpotensi untuk dikonversi menjadi energi listrik di daerah-daerah  seluruh  Indonesia  dengan  potensinya  menjadi energi listrik alternatif  menuju Indonesia  Mandiri  Energi  2025.  Selain  itu  perlu  adanya  dukungan  penuh  dari berbagai pihak, pemerintah, pihak swasta, akademisi, dan seluruh masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Arief, Latar Muhammad. 2012. Pengolahan Limbah Gas. http://ikk357.weblog. esaunggul.ac.id/wp-content/uploads/sites/313/2012/12/LIMBAH-GAS.pdfDiakses 24 April 2015
Balai Pengkajian TeknologiPertanian Bali. 2006. Sampah untuk Pakan Ternak. Warta Penelitian dan Pengembangan Pertanian Vol. 28, No. 3
Damanhuri, Enri dan Tri Padmi. 2011. Diktat Kuliah TL-3104 Pengelolaan Sampah. Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung
Damanhuri, Enri. 2001.  Minimisasi Sampah Terangkut dan Optimasi TPA.Dalam  Workshop Sehari tentang Pengelolaan Sampah di  Kawasan Metropolitan, Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah.
Danarto,Y.C., dkk. 2010. Limbah Serbuk Kayu dengan Katalisator Zeolit. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia
Fitriyah, Lailatul, dkk. 2010. Diversifikasi Briket Berbahan Dasar Sampah Organik Sebagai Alternatif Baru Bahan Bakar Bagi Masyarakat. Malang : Universitas Negeri Malang.
Garg, A., dkk. 2009. An Integrated Appraisal Of Energy Recovery Options In The United Kingsom using Solid Recovery Fuel Derived from Municipial Solid Waste. Waste Manage. 29, 2289-2297
Hantoko, Dwi, dkk. 2015. Simulasi Termodinamika Perengkahan Tar pada Keluaran Fixed Bed Gasifier. Prosiding Seminar Nasional Teknik Kimia “Kejuangan” Pengembangan Teknologi Kimia untuk Pengolahan Sumber Daya Alam Indonesia Yogyakarta.
Shoiful, Ahmad. 2008. Pedoman Teknis Terbaik yang Tersedia dan Petunjuk Praktik Lingkungan Hidup Terbaik Kategori Insinerasi Limbah Padat Perkotaan.Guidelines on Best Available Techniques (BAT) And Provisional Guidance on Best Environmental Practices (BEP) – Municipal Solid Waste Incinerator
Sulistyorini, Lilis. 2005. Pengelolaan Sampah dengan Cara Menjadikannya Kompos. Jurnal Kesehatan Lingkungan, Vol. 2, No. 1
Wahyono, Sri. 2001. Pengolahan Sampah Organik dan Aspek Sanitasi. Jurnal Teknologi Lingkungan, Vol.2, No. 2, Mei 2001 : 113-118
Wijayanti, Widya, dkk. 2013. Metode Pirolisis Untuk Penanganan Sampah Perkotaan Sebagai Penghasil Bahan Bakar Alternatif. Universitas Brawijaya
http://artikel-teknologi.com/metode-mengendalikan-emisi-nox-pada-gas-buang-boiler/ Diakses 24 April 2015
http://mediacenter.riau.go.id/read/8056/setiap-hari-pekanbaru-hasilkan-11-ton-sampah.html Diakses 23 April 2015
https://teknoperta.wordpress.com/2012/05/04/gasifikasi-biomas/Diakses 24 April 2015
http://wikimapia.org/11923857/id/Lokasi-TPA-Muara-Fajar-RumbaiDiakses 24 April 2015
http://www.pln.co.id/riau/?p=3343 Diakses 23 April 2015
http://artikel-teknologi.com/metode-mengendalikan-emisi-so2-pada-gas-buang-boiler/ Diakses 24 April 2015





DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Biodata Penulis 1
A.           Identitas Diri
1.             Nama Lengkap                          : Azhari Harahap
2.             NIM                                           : 1307112953
3.             Program Studi/ Jurusan             : Teknik Kimia S1 / Teknik Kimia
4.             Fakultas                                     : Teknik
5.             Tempat dan Tanggal Lahir        : Padangsidimpuan, 28 Februari 1995
6.             Alamat                                       : Jl. Taman Karya, Panam, Pekanbaru
7.             E-mail                                        : azhariharahap228@ymail.com
8.             Nomor Telepon/HP                   : 085762253302
B.            Penghargaan kepenulisan selama menjadi mahasiswa (dari pemerintah, asosiasi, atau institusi lainnya)
No
Jenis Penghargaan
Institusi Pemberi Penghargaan
Judul Karya
Tahun







Biodata Penulis 2
A.           Identitas Diri
1.             Nama Lengkap                          : Meliana Dewi
2.             NIM                                           : 1307123438
3.             Program Studi/ Jurusan             : Teknik Kimia S1/Teknik Kimia
4.             Fakultas                                     : Teknik
5.             Tempat dan Tanggal Lahir        : Purbalingga, 24 Juni 1995
6.             Alamat                                       : Jl Manyar Sakti Panam, Pekanbaru
7.             E-mail                                        : meliana.dewi1995@gmail.com
8.             Nomor Telepon/HP                   : 082390344070


B.            Penghargaan kepenulisan selama menjadi mahasiswa (dari pemerintah, asosiasi, atau institusi lainnya)
No
Jenis Penghargaan
Institusi Pemberi Penghargaan
Judul Karya
Tahun